Islam

Masjid Bersejarah Jakarta: 8 Wisata Religi Berusia Ratusan Tahun

Masjid Bersejarah Jakarta, yang berusia ratusan tahun, menjadi saksi sejarah Islam sejak Kesultanan Banten hingga era kolonial Belanda. Dari Masjid Jami Al Khairaat hingga Masjid Luar Batang, tempat ibadah ini menawarkan wisata religi Jakarta yang kaya sejarah. Dengan arsitektur unik dan nilai budaya, masjid-masjid ini menarik ribuan pengunjung. Oleh karena itu, Masjid Bersejarah Jakarta menginspirasi pengunjung untuk menjelajahi warisan spiritual dan sejarah Islam Jakarta yang mendalam.

Sejarah dan Keunikan Masjid Bersejarah

Masjid Bersejarah Jakarta mencerminkan perjalanan Islam di ibu kota, mulai dari abad ke-16. Menurut buku Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia karya Abdul Baqir Zein (,,), masjid-masjid ini menjadi pusat ibadah, pendidikan, dan perjuangan melawan penjajah. Dengan demikian, masjid seperti Jami Al Khairaat dan Luar Batang menawarkan nilai sejarah dan spiritual.

Selain itu, arsitektur masjid menggabungkan gaya Betawi, Banten, dan Belanda, menciptakan daya tarik unik. Oleh karena itu, wisatawan menjelajahi masjid ini untuk memahami sejarah Islam Jakarta yang kaya.

Masjid Jami Al Khairaat dan Al Arif Jagal

Masjid Jami Al Khairaat, di Batu Ampar, Condet, Jakarta Timur, berdiri sejak abad ke-16. Dua saudara Betawi, Dato’ Kudul dan Dato’ Dji’in, mendirikan masjid ini, . Sekarang, masjid ini tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan dan simbol sejarah Condet.

Sementara itu, Masjid Raya Al Arif Jagal Senen, dibangun pada 1695 di Pasar Senen, Jakarta Pusat, menampilkan atap limas dan kubah besar, lokasinya di kawasan perdagangan tidak mengurangi pesona sejarahnya, menjadikannya destinasi wisata religi Jakarta.

Masjid Al Alam Marunda dan Jami Assalafiyah

Masjid Al Alam Marunda, atau Masjid Si Pitung, berdiri pada 1527 di tepi pantai Marunda, Cilincing. masjid ini terkait dengan perjuangan Si Pitung melawan Belanda, menambah nilai sejarahnya. Dengan demikian, arsitektur pantai dan cerita legendaris menarik pengunjung.

Selain itu, Masjid Jami Assalafiyah, didirikan Pangeran Jayakarta pada 1620 di Jatinegara, menjadi pusat perjuangan melawan Belanda. Pemprov DKI kini merawat masjid dan makam Pangeran Jayakarta

Masjid Jami Al-Barkah dan Matraman

Masjid Jami Al-Barkah, di Kemang Utara, Jakarta Selatan, berdiri pada 1818 atas prakarsa Guru Sirin dari Banten. , makam Guru Sirin di sisi barat menjadikan masjid ini destinasi ziarah. Oleh sebab itu, masjid ini memadukan ibadah dan wisata religi.

Sementara itu, Masjid Jami Matraman, didirikan pada 1837, menampilkan arsitektur Timur Tengah dan India dengan kubah besar dan dua menara kuning. Dengan demikian, masjid ini mencerminkan pengaruh Mataram di Batavia, menarik pengunjung yang mencari sejarah Islam Jakarta.

Masjid Al Anwar dan Luar Batang

Masjid Al Anwar, atau Masjid Angke, di Jakarta Barat, diresmikan pada 2 April 1761. , masjid ini menggabungkan gaya Belanda, Banten, dan Tiongkok, menjadikannya cagar budaya. Oleh karena itu, arsitekturnya unik meski ukurannya kecil.

Sebagai tambahan, Masjid Luar Batang, didirikan pada 1739 oleh Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus di Penjaringan, menarik 10.000 pengunjung mingguan untuk ziarah. Dengan menara setinggi 57 meter sejak 2008, masjid ini menjadi ikon wisata religi Jakarta, .

Inspirasi dari Masjid Bersejarah Jakarta

Masjid Bersejarah Jakarta, dari Al Khairaat hingga Luar Batang, mengajarkan kekayaan sejarah dan spiritualitas Islam. Dengan demikian, masjid-masjid ini menginspirasi wisatawan untuk menghargai warisan budaya dan perjuangan leluhur. Misalnya, kisah Si Pitung dan Pangeran Jayakarta menunjukkan semangat keberanian. Oleh sebab itu, menjelajahi masjid ini memperdalam pemahaman tentang sejarah Islam Jakarta, mendorong kita untuk melestarikan nilai-nilai luhur dalam kehidupan modern.