BuddhaDestinasi Religi

Pujayatra Borobudur: Perayaan Ashada yang Khidmat

Bahmatullah.id Pujayatra Borobudur, bagian dari perayaan Ashada pada 7 Juli 2025, mengundang 11.000 umat Buddha dari Indonesia dan mancanegara untuk berjalan khidmat dari Candi Mendut ke Borobudur, Magelang. Meskipun hujan gerimis turun, antusiasme tetap tinggi, diperkaya oleh 2.000 peserta Indonesia Tipitaka Chanting (ITC). Dengan kereta kencana simbolik, Pujayatra Borobudur mendorong umat merenungkan ajaran Buddha. Prosesi ini menginspirasi kedamaian batin dan penerapan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari.

Makna Spiritual Pujayatra Borobudur

Pujayatra Borobudur merupakan kirab spiritual dalam perayaan Ashada, memperingati khotbah pertama Sang Buddha. Menurut Kemenag (,,web:0), umat berjalan 3 kilometer dari Candi Mendut ke Borobudur untuk merenungkan Buddha, Dhamma, dan Sangha. Bhikku Sri Subhapanno Mahathera menjelaskan bahwa umat tidak sekadar berjalan, melainkan memurnikan batin melalui perenungan.

Oleh karena itu, prosesi ini memperkuat keyakinan spiritual. Dengan demikian, umat berjalan tanpa penutup kepala dan minim bicara, fokus pada keagungan ajaran Buddha. Sebagai hasilnya, Pujayatra Borobudur menjadi momen refleksi mendalam bagi peserta.

Prosesi dan Peserta Kirab

Pada 7 Juli 2025, sekitar 11.000 umat Buddha, termasuk 2.000 peserta ITC, mengikuti Pujayatra Borobudur, menurut Berita Magelang (,,web:1). Meskipun gerimis turun, peserta tetap antusias. Selain itu, peserta ITC, mengenakan kaus putih, bawahan hitam, dan selempang merah, berbaris rapi, menambah kekhidmatan kirab.

Sekitar pukul 13:00 WIB, umat memulai kirab dari Candi Mendut. Misalnya, empat kereta kencana karya Bhante Sri Phannavaro—Stambha Vijaya, Dhammacakka, Tipitaka, dan Mahadhatu—menyemarakkan prosesi, seperti dilaporkan Murianews (,,web:3). Barisan Merah Putih dan Bendera Buddhis turut memperkaya suasana.

Simbolisme Kereta Kencana

Kereta kencana dalam Pujayatra Borobudur membawa makna simbolik. Bhikku Sri Subhapanno Mahathera menyatakan bahwa Kereta Kencana Mahadhatu melambangkan jasa Sang Buddha, mendorong umat mengikuti ajarannya (,,web:0). Dengan demikian, kereta ini mengingatkan kesucian Buddha sebagai guru agung.

Selain itu, kereta seperti Stambha Vijaya melambangkan kemenangan spiritual, sedangkan Dhammacakka dan Tipitaka mencerminkan ajaran dan kitab suci. Oleh sebab itu, elemen-elemen ini memperkuat nilai spiritual, sehingga kirab menjadi lebih bermakna bagi peserta.

Dukungan dan Apresiasi Penyelenggaraan

Dirjen Bimas Buddha Supriyadi ikut berjalan sambil membawa bunga dan mengapresiasi kelancaran Pujayatra Borobudur. “Umat menjalani prosesi dengan khidmat, memperkuat keyakinan spiritual,” ujarnya (,,web:2). Ia menegaskan bahwa perenungan membantu menerapkan ajaran Buddha dalam kehidupan.

Sebagai tambahan, atraksi kesenian rakyat di sepanjang rute menghibur warga, menurut Erakini (,,web:7). Oleh karena itu, koordinasi dengan otoritas lokal dan Sangha Theravada Indonesia memastikan prosesi berlangsung tertib. Dengan demikian, kirab ini memperkuat nilai budaya dan spiritual.

Inspirasi dari Pujayatra Borobudur

Pujayatra Borobudur mengajarkan umat untuk memurnikan pikiran melalui perenungan spiritual, sehingga membawa kedamaian. Dengan langkah penuh makna, prosesi ini mendorong penerapan ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, kisah ini menunjukkan kekuatan komunitas dalam menjaga nilai luhur. Oleh sebab itu, Pujayatra Borobudur menginspirasi kita untuk merenungkan tujuan hidup dan berbuat baik, menciptakan harmoni spiritual dan budaya dalam masyarakat.