Lompat ke konten
Home » All Post » Cerita di Balik Isra Miraj

Cerita di Balik Isra Miraj

Rahmatullah.id – Tiga tahun sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah, kaum Kafir Quraisy memutus akses Nabi & keluarganya untuk mendapatkan makanan dan kebutuhan sehari-harinya. Bahkan paman beliau, Abu Thalib yang beliau sesepuh agama Kafir Quraisy pun diputus aksesnya (embargo).

Maka dikenallah dalam sejarah tahun yang disebut Amul Huzni (tahun kesedihan) dimana 2 orang tersayang Nabi (Khadijah & pamannya, Abu Thalib) wafat.

Mereka wafat dalam keadaan diputus akses mendapatkan makanan & kebutuhan hari-hari, sehingga mereka menderita sakit dan akhirnya wafat.

Wafatnya dua sosok ini sangat pilu di hati beliau, dan lebih dari itu juga mempengaruhi perjuangan beliau setelah wafatnya.

Khadijah, adalah sosok yang setia menemani sang Nabi dalam dakwah beliau yang terus diintimidasi dan diteror Kafir Quraisy.

Khadijah juga merelakan hartanya untuk dipakai di jalan Dakwah Nabi.

Selain itu, Khadijah juga melahirkan anak-anak beliau. Aisyah bertanya kepada Nabi mengapa Nabi sangat mencintai Khadijah walaupun sudah wafat.

Nabi menjawab: “Ia beriman ketika manusia kafir kepadaku, Ia membenarkan ucapanku sewaktu manusia mendustaiku, ia membantuku dengan hartanya ketika manusia enggan memberikannya, dan dari rahimnya lahir anak-anakku”

Adapun Abu Thalib, paman beliau, ia adalah orang yang membela dakwah Nabi meskipun sampai akhir hayatnya ia tetap beragama Kafir Quraisy, bahkan beliau adalah sesepuh agama Kafir Quraisy.

Beliau membela Nabi karena semangat kekeluargaan dan kesukuan/kebangsaan, dimana beliau ingin melindungi Nabi dan keluarganya dari teror dan intimidasi Abu Jahal dan kawan-kawan. Beliau tidak ingin terjadi tumpah darah di Mekkah karena intimidasi kaumnya terhadap Nabi.

Abu Thalib pasang badan bahkan bersepakat dalam koalisi bersama antara Muslim dan non Muslim dalam melindungi Nabi.

Isi pasal-pasal koalisi tersebut dipampang di depan Ka’bah, tapi kemudian dirobek oleh Abu Jahal dan mengancam akan meng-embargo siapa saja yang ikut koalisi tersebut.

Terjadilah, Abu Jahal yang pasang badan diembargo oleh Abu Jahal dan kawan-kawan, bahkan orang-orang Kafir yang ikut koalisi tersebut juga diboikot.

Sampai akhirnya Abu Thalib sakit dan wafat. Menjelang wafatnya, Rasulullah SAW membujuk sang paman agar masuk Islam. Akan tetapi Abu Jahal yang juga datang di detik-detik akhir wafatnya pun membujuk untuk tidak masuk Islam.

Dan…

Hidayah milik Allah, Abu Thalib tidak bersyahadat di akhir hayatnya. Nabi sangat sedih karena tidak akan bertemu lagi di Surga bersamanya.

Dua kesedihan itu, ditambah makin diterornya umat Islam Mekkah oleh Abu Jahal, menjadi puncak kesedihan beliau sepanjang sejarah dakwahnya.

Maka atas kesabaran beliau, Allah hendak menghapus kesedihan-kesedihan itu dengan sebuah peristiwa yang amat dahsyat, yakni Isra & Mi’raj

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.